Thursday, January 17, 2013

Ayah, Anak dan Keledai

Ini hanya sebuah kisah tetapi hikmahnya adalah hanya syariat yang harus benar-benar kita pedulikan sebagai pemandu kehidupan kita, jika setiap kata orang kita pedulikan, dijamin tidak akan nyaman hidup kita.

Alkisah, seorang ayah dan anaknya pergi meninggalkan kampungnya menuju ke kota untuk membeli barang dagangan. Demi memudahkan mereka mengangkut barang dagang yang akan mereka beli, mereka juga membawa seekor keledai.

Beberapa saat setelah mereka meninggalkan kampung mereka, mereka bertemu dengan salah satu warga kampung yang baru pulang dari bepergian. Orang ini menyarankan agar mereka menunggangi keledai mereka karena cuaca di gurun pasir hari ini amat sangat terik, alangkah baiknya jika mereka menghemat tenaga.

Tawassul Berdasarkan Contoh dari Rasulullah

Sebuah hadits yang cukup panjang di bawah ini memberikan teladan bagaimana menghadapi masalah yang sangat sulit yang sudah tiada lain yang dapat menolong kecuali pertolongan-Nya.


Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: 

Ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga terlalu malam sehingga mereka terpaksa harus menginap dalam sebuah gua.  Setelah mereka semua memasuki gua tersebut tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup pintu gua tersebut.  Salah seorang dari mereka lalu berkata : ’Sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdo’a kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red).

Tawakal dan Sempurnanya Ikhtiar

Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam menyatakan bahwa tawakal dan ikhtiar yang sempurna tidaklah bertentangan. Beliau berkata, 

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya bertawakal tidaklah bertentangan dengan usaha untuk (melakukan) sebab yang dengannya Allah Ta’ala menakdirkan ketentuan-ketentuan (di alam semesta), dan (ini merupakan) ketetapan-Nya yang berlaku pada semua makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan (kepada manusia) untuk melakukan sebab (usaha) sebagaimana Dia memerintahkan untuk bertawakal (kepada-Nya), maka usaha untuk melakukan sebab (yang halal) dengan anggota badan adalah (bentuk) ketaatan kepada-Nya, sebagaimana bertawakal kepada-Nya dengan hati adalah (perwujudan) iman kepada-Nya"