Ini hanya sebuah kisah tetapi hikmahnya adalah hanya syariat yang
harus benar-benar kita pedulikan sebagai pemandu kehidupan kita, jika
setiap kata orang kita pedulikan, dijamin tidak akan nyaman hidup kita.
Alkisah, seorang ayah dan anaknya pergi meninggalkan kampungnya
menuju ke kota untuk membeli barang dagangan. Demi memudahkan mereka
mengangkut barang dagang yang akan mereka beli, mereka juga membawa
seekor keledai.
Beberapa saat setelah mereka meninggalkan kampung mereka, mereka
bertemu dengan salah satu warga kampung yang baru pulang dari bepergian.
Orang ini menyarankan agar mereka menunggangi keledai mereka karena
cuaca di gurun pasir hari ini amat sangat terik, alangkah baiknya jika
mereka menghemat tenaga.
Ayah dan anak ini berpikir bahwa saran orang
itu baik juga untuk diikuti maka mereka berdua pun naik ke punggung
keledai tersebut.
Benar saja, walaupun keledai tidak secepat kuda tetapi perjalanan
menjadi lebih nyaman. Tidak berapa lama kemudian ayah dan anak ini
berpapasan dengan serombongan kafilah yang terdiri dari para penunggang
kuda dan unta. Sebagian dari anggota rombongan kafilah ini menertawakan
tunggangan ayah dan anak ini, macam-macam yang mereka katakan. Salah
seorang di antaranya berkata, “Alangkah kejamnya kalian, keledai kurus
begitu ditunggangi oleh kalian berdua yang berbadan besar di tengah
cuaca gurun yang amat panas ini”.
Rupanya ayah dan anak ini terpengaruh oleh ucapan terakhir tadi.
Mereka jadi tidak tega dengan keledai mereka, akhirnya mereka memutuskan
untuk mengurangi beban si keledai. Sang anak badannya lebih kecil
dibanding sang ayah, karena itu mereka memutuskan agar si anak saja yang
menunggangi keledai tersebut. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan
sang ayah menuntun keledai dengan sang anak berada di atas punggung
keledai tersebut.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka akan melewati sebuah oase
tempat para musafir sering berhenti untuk minum dan melepas lelah di
sana. Begitu mereka mendekati oase tersebut, sejumlah musafir lain yang
sedang beristirahat di sana berujar, “Alangkah durhakanya anak tersebut,
membiarkan ayahnya menjadi penuntun keledai seperti seorang budak,
sedangkan dia berleha-leha di atas punggung keledai itu”. Seketika sang
anak melompat turun, dan mereka berdua berjalan menuntun keledai
tersebut lalu menambatkannya di dekat oase. Sambil minum, ayah dan anak
ini berdiskusi, mengenai cara terbaik untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka merasa terganggu oleh omongan orang yang selalu mencela mereka.
Setelah beberapa saat berdiskusi akhirnya mereka memutuskan agar sang
ayah yang menunggangi keledai dan sang anak yang akan berjalan kaki
sambil menuntun keledai tersebut.
Merekapun selesai beristirahat dan siap melanjutkan perjalanan.
Sesuai kesepakatan, sang anak sekarang menjadi penuntun keledai dengan
sang ayah menunggangi keledai tersebut. Singkat cerita mereka akhirnya
sampai di kota tempat tujuan, merekapun melewati gerbang kota. Penjaga
gerbang kota mempersilakan mereka masuk, tetapi salah satu dari penjaga
itu terdengar oleh ayah dan anak ini berkata kepada rekannya. Penjaga
itu berkata, “Wah kasihan sekali anak itu ya, diperbudak oleh ayahnya
yang tahunya hanya berleha-leha di atas punggung keledai”.
Ayah dan anak ini pun kesal, rasanya dari tadi selalu saja ada yang
salah dalam perjalanan mereka. Akhirnya, dengan marah sang ayah berkata,
“Ya sudah, karena kita berjalan kaki salah, kita berdua naik salah,
salah satu dari kita naik juga tetap salah, sekarang kita gedong saja
keledai ini ke pasar”.
Mereka berdua pun menggendong keledai itu ke pasar, dan tanpa
menunggu lama tingkah merekapun segera menimbulkan kegemparan di kota
tersebut. Kisah merekapun terus menjadi buah bibir hingga sekarang.
(Disarikan dari berbagai sumber)
No comments:
Post a Comment